Capability Maturity Model Integration (CMMI)

Capability Maturity Model Integration (CMMI)

Di seluruh dunia, banyak perusahaan yang berusaha untuk menggunakan metode yang paling efisien untuk melatih dan meningkatkan sumber daya manusia yang mereka miliki untuk mendapatkan efisiensi kerja yang maksimum dalam organisasi mereka. Untuk melakukan ini, ada beberapa standar yang biasa digunakan untuk melakukan perbaikan, seperti Standar IEEE (untuk industri energi dan biomedis) dan BABOK Guide (untuk analisis bisnis). Selain dua contoh tersebut, banyak lembaga yang telah mengembangkan standar lain agar sesuai dengan industri yang dituju untuk memastikan tingkat produktivitas dan efisiensi mereka.

Di antara standar-standar ini, salah satu standar pengetahuan yang paling umum digunakan oleh perusahaan pengembangan adalah standar Capability Maturity Model Integration CMMI. Pertama kali digagas pada tahun 2002, perusahaan sekarang menggunakan CMMI sebagai standar untuk mengintegrasikan fungsi organisasi yang terpisah, menetapkan tujuan dan prioritas peningkatan proses, dan memberikan panduan untuk proses kualitas dalam organisasi mereka. Selain itu, karena saat ini banyak perusahaan perangkat lunak menggunakan standar CMMI untuk mengatur pekerjaan mereka secara efisien, sehingga layak bagi kita untuk mempelajari intrik di balik serangkaian standar khusus ini.

Karena standar Capability Maturity Model Integration CMMI berkisar pada konsep pematangan struktur organisasi perusahaan, kita dapat mengasumsikan bahwa standar Capability Maturity Model Integration (CMMI) adalah proses yang bertahap. Perusahaan harus melakukan setiap tahap dari semua proses jika ingin memenuhi standar CMMI. Untuk memenuhi standar-standar ini, ada lima tahap yang harus dilakukan perusahaan untuk mengoptimalkan kualitas organisasinya.

Capability Maturity Model Integration cmmi, Capability Maturity Model Integration (CMMI), Advance Innovations

Pada tahap 1 (awal), perusahaan belum memiliki lingkungan yang stabil dan biasanya bersifat kacau. Pada tingkat ini, perusahaan hanya dapat memperoleh kesuksesan berdasarkan kompetensi karyawannya dan bukan dari standar kerja yang ditentukan. Untuk memastikan bahwa perusahaan akan terus berhasil, perusahaan harus memasuki tahap 2 (dikelola). Karena perusahaan telah menetapkan tujuan umum dan spesifik, perusahaan sekarang dapat merencanakan dan mengelola tujuannya secara lebih efisien.

Setelah memasuki tahap 3 (didefinisikan), perusahaan dapat melakukan standarisasi seluruh organisasi untuk menciptakan standar proses yang sama pada semua proyek dalam strukturnya. Perbedaan utama dari tahap 2 adalah pada tahap 3 perusahaan menjadi lebih proaktif dalam mengelola prosesnya. Pada titik ini, perusahaan menggunakan pemahaman tentang hubungan antara kegiatan proses dan langkah-langkah rinci dari semua proses.

Setelah memasuki tahap 4 (dikelola secara kuantitatif), perusahaan telah mencapai semua tujuan umum dan spesifiknya dari tahap 2 dan 3. Karena keberhasilannya ini, sekarang perusahaan dapat menilai proyek-proyeknya secara kuantitatif maupun kualitatif. Hal Ini dianggap penting karena perusahaan sudah dapat membuat kriteria produksi berdasarkan kebutuhan pelanggan dan penggunanya. Karena itu, perusahaan dapat mengontrol kinerja prosesnya dengan menggunakan cara kuantitatif berdasarkan kebutuhan kliennya.

Terakhir, perusahaan yang sudah mencapai semua tahap di atas, sekarang memasuki tahap 5 (mengoptimalkan). Pada titik ini, perusahaan lebih mudah beradaptasi dengan berbagai perubahan dan peluang yang ada pada perusahaan pada saat tertentu, yang dapat meningkatkan proses pembelajaran stafnya. Selain itu, tahap 5 juga memungkinkan perusahaan untuk menentukan tujuan umum dan khusus dengan cara yang lebih baik daripada tahap 4. Sebagai hasilnya, perusahaan dapat meningkatkan kinerja proses sambil tetap mempertahankan prediksi statistik, sehingga perusahaan menjadi lebih sukses dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.

Capability Maturity Model Integration cmmi, Capability Maturity Model Integration (CMMI), Advance Innovations

Dari semua tahap, tidak satu pun dari tahap ini yang boleh dilewatkan jika perusahaan ingin meningkatkan kualitas organisasinya. Selain itu, perusahaan harus mempertimbangkan kondisi internalnya sendiri ketika menilai langkah-langkah yang harus diambil berdasarkan standar CMMI. Kondisi internal ini akan membantu perusahaan untuk membangun kriteria langkah yang harus diambil ketika memperbaiki struktur organisasinya. Selain itu, kriteria dapat membantu perusahaan untuk memutuskan rencana yang akan diambil selama masa  peningkatan untuk mengurangi jumlah kesalahan yang mungkin terjadi.

Menetapkan kriteria berdasarkan standar CMMI juga penting bagi perusahaan. Dengan begitu, perusahaan dapat memutuskan apa yang harus ditingkatkan dalam organisasinya berdasarkan kebutuhannya sendiri dan kriteria yang dibuat dari standar CMMI. Lebih tepatnya, kriteria mungkin berbeda di setiap area proses (PA) yang perusahaan jalankan saat ini. Misalnya, dalam Solusi Teknis (TS) pada PA, perusahaan perangkat lunak akan meningkatkan aspek teknis dari sebuah produk perangkat lunak berdasarkan pada penerapan perangkat lunak tersebut. Jika perangkat lunak dianggap tidak cukup memuaskan, perusahaan harus meningkatkan desain secara keseluruhan, seperti antarmuka pengguna dan kepraktisan keseluruhan saat digunakan.

Contoh ini menyoroti contoh di mana perusahaan harus menilai faktor internalnya sendiri sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan berdasarkan standar CMMI. Proses serupa dapat terjadi di area proses lain, seperti di PA Validasi (VAL) atau PA Verifikasi (VER). Dalam area proses ini, suatu produk harus ditinjau, divalidasi, dan diverifikasi berdasarkan metode peer-review. Dengan ini, produk dinilai secara adil berdasarkan standar CMMI sebelum produk dianggap siap untuk digunakan secara luas.

Secara keseluruhan, standar CMMI menyediakan serangkaian langkah terperinci dan teliti yang dapat digunakan perusahaan untuk meningkatkan organisasi dan produktivitasnya. Standar ini memiliki berbagai langkah dan tahapan yang dapat digunakan perusahaan untuk menyempurnakan kekurangan struktur organisasinya. Hal ini juga dapat membantu perusahaan untuk menyimpulkan dan menilai kebutuhan yang paling mendesak sebelum melanjutkan untuk memperbarui kegiatan produksinya. Meski begitu, perusahaan tetap harus melakukan tahapan standar CMMI dengan disiplin penuh dari awal hingga akhir jika perusahaan ingin menggunakan standar tersebut sepenuhnya.