Manajemen Risiko Perusahaan: Pengertian, Prinsip, Proses dan Manfaat

Manajemen Risiko Perusahaan: Pengertian, Prinsip, Proses dan Manfaat

Setiap bisnis bisa mendapatkan risiko tak terduga yang mampu menyebabkan berbagai masalah, menguras biaya operasional, hingga bahkan harus tutup secara permanen. Contoh risiko yang saat ini sedang menimpa dunia bisnis adalah pandemi Covid-19. Sebelum hal seperti ini terulang lagi, bisnis Anda harus menjalankan manajemen risiko perusahaan.

Manajemen risiko dapat membantu perusahaan mempersiapkan hal-hal tidak terduga untuk mencegah efek negatif menjadi lebih besar. Itulah mengapa penting untuk memahami tentang hal ini.

Pengertian Manajemen Risiko Perusahaan

Manajemen risiko adalah suatu proses mengidentifikasi, menilai, dan mengendalikan bahaya atau ancaman terhadap perusahaan, khususnya dari sisi modal dan pendapatan. Ancaman ini bisa berasa dari faktor internal dan eksternal. 

Faktor internal seperti kesalahan strategi bisnis manajemen hingga kondisi finansial yang tak stabil. Sebaliknya, faktor eksternal seperti masalah hukum, kecelakaan, bencana alam, dan lainnya. 

Mempelajari dan menjalankan manajemen risiko sangat penting bagi perusahaan dalam melindungi masa depan. Itulah mengapa Anda harus mengetahui beberapa alasan pentingnya hal ini.

Baca Juga: 8 Strategi Pengembangan Bisnis yang Efektif

Prinsip Manajemen Risiko

Tujuan manajemen risiko meningkatkan kinerja, mendorong inovasi, dan mendukung pencapaian sasaran.

Prinsip adalah fondasi pengelolaan risiko dan sebaiknya dipertimbangkan saat menyiapkan kerangka kerja dan proses manajemen risiko. Prinsip ini sebaiknya memungkinkan perusahaan untuk mengelola efek ketidakpastian terhadap sasarannya.

Adapun prinsip manajemen risiko perusahaan berdasarkan ISO 31000:2018 adalah sebagai berikut:

1. Terintegrasi

Manajemen risiko adalah bagian integral dari semua aktivitas organisasi.

2. Terstruktur dan komprehensif

Pendekatan terstruktur dan komprehensif terhadap manajemen risiko berkontribusi terhadap hasil yang konsisten dan dapat dibandingkan.

3. Disesuaikan

Kerangka kerja dan proses manajemen risiko disesuaikan dan proporsional dengan konteks eksternal dan internal organisasi yang berkaitan dengan sasarannya.

4. Inklusif

Keterlibatan yang sesuai dan tepat waktu dari pemangku kepentingan memungkinkan pengetahuan, pandangan, dan persepsi mereka untuk menjadi bahan pertimbangan. Hasil dari proses ini menghasilkan peningkatan kesadaran dan manajemen risiko terinformasi.

5. Dinamis

Risiko dapat muncul, berubah, atau hilang seiring perubahan konteks eksternal dan internal organisasi. Manajemen risiko mengantisipasi, mendeteksi, mengakui, dan menanggapi perubahan dan peristiwa tersebut dengan sesuai dan tepat waktu.

6. Informasi terbaik yang tersedia

Masukan manajemen risiko didasarkan atas informasi historis dan terkini, dan juga harapan ke depan. Manajemen risiko secara eksplisit memperhitungkan segala batasan dan ketidakpastian yang berkaitan dengan informasi dan harapan tersebut. Informasi sebaiknya tepat waktu, jelas, dan tersedia bagi pemangku kepentingan yang terkait.

7. Faktor manusia dan budaya

Perilaku dan budaya manusia secara signifikan memengaruhi semua aspek manajemen risiko pada setiap tingkatan dan tahap.

8. Perbaikan berkelanjutan

Manajemen risiko diperbaiki secara berkelanjutan atau terus-menerus berdasarkan pembelajaran dan pengalaman.

Baca juga: Memahami Dampak Industri 4.0 Terhadap Bisnis Anda

Proses Manajemen Risiko

Ada banyak model penerapan proses manajemen risiko dalam suatu organisasi, dirancang secara khusus (customized) untuk mencapai sasaran dan selaras dengan konteks eksternal dan internal di mana proses manajemen risiko diterapkan.

manajemen risiko perusahaan, Manajemen Risiko Perusahaan: Pengertian, Prinsip, Proses dan Manfaat, Advance Innovations

Meskipun proses manajemen risiko sering disajikan secara berurutan, dalam praktiknya dilaksanakan secara berulang.

Berikut ini proses manajemen risiko perusahaan berdasarkan standar ISO 31000:2018.

1. Komunikasi dan konsultasi

Tujuan dari dilakukannya komunikasi dan konsultasi adalah untuk membantu para pemangku kepentingan dalam memahami risiko, sebagai hal yang mendasari pengambilan keputusan dan alasan mengapa tindakan-tindakan tertentu diperlukan.

Komunikasi berupaya untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang risiko, sedangkan konsultasi untuk mendapatkan umpan balik dan informasi yang diperlukan guna pengambilan keputusan.

2. Menetapkan ruang lingkup, konteks dan kriteria

Sasaran dari menetapkan ruang lingkup, konteks dan kriteria adalah untuk merancang proses manajemen risiko yang khusus (sesuai dengan kebutuhan), menunjang penilaian risiko yang efektif dan perlakuan risiko yang tepat.

Lingkup, konteks dan kriteria meliputi penentuan lingkup proses, pemahaman konteks eksternal dan internal, dan untuk menilai tingkat risiko.

Baca juga: Inilah 5 Cara Mengatasi Kegagalan ERP

3. Penilaian risiko

Penilaian risiko adalah keseluruhan proses dari identifikasi risiko, analisis risiko dan evaluasi risiko. Proses ini harus dilakukan secara sistematis, berulang dan kolaboratif (bekerjasama dengan pihak yang berkepentingan), berdasarkan pada pengetahuan dan pandangan pemangku kepentingan terhadap risiko.

Sangat disarankan untuk menggunakan informasi terbaik yang tersedia, jika diperlukan dapat dilengkapi dengan kajian yang mendalam.

4. Perlakuan atau pengendalian risiko

Tujuan perlakuan risiko adalah untuk memilih dan menerapkan opsi penanganan risiko. Pemilihan opsi yang paling tepat mencakup penyeimbangan potensi manfaat yang didapatkan yang berkaitan dengan pencapaian sasaran terhadap biaya, upaya, atau kerugian implementasi.

5. Pemantauan dan tinjauan

Tujuan pemantauan dan tinjauan kembali adalah untuk memastikan dan meningkatkan mutu dan efektivitas desain, implementasi, dan hasil keluaran proses.

Pemantauan yang sedang berlangsung dan tinjauan berkala terhadap proses dan hasil penerapan manajemen risiko sebaiknya menjadi bagian terencana. Pemantauan dan tinjauan sebaiknya dilaksanakan pada semua tahap proses manajemen risiko.

6. Pencatatan dan pelaporan

Proses dan hasil manajemen risiko sebaiknya didokumentasikan dan dilaporkan melalui mekanisme yang sesuai.

Pencatatan dan pelaporan bertujuan untuk:

  • mengomunikasikan aktivitas manajemen risiko dan hasil keluaran dari manajemen risiko ke seluruh organisasi;
  • memberikan informasi untuk pengambilan keputusan;
  • meningkatkan aktivitas manajemen risiko;
  • membantu interaksi dengan pemangku kepentingan, termasuk pihak yang memiliki tanggung jawab dan akuntabilitas untuk aktivitas manajemen risiko.

Baca juga: 5 Faktor Keberhasilan Implementasi ERP di Perusahaan

Manfaat Manajemen Risiko yang Dapat Dirasakan Perusahaan

Ada berbagai manfaat ketika perusahaan Anda menjalan manajemen risiko ini. Manfaat utamanya adalah membantu perusahaan menetapkan prosedur untuk menghindari berbagai ancaman, sekaligus meminimalkan dampak dan mengatasinya.

Ketika sudah memahami manajemen risiko, perusahaan menjadi lebih percaya diri ketika mengambil keputusan. Tata kelola perusahaan juga menjadi kuat karena sudah disertai awareness dalam menghadapi ancaman yang bisa muncul kapan saja.

Selain itu, ada beberapa manfaat lain dari penerapan manajemen risiko:

  • Meningkatkan stabilitas operasional perusahaan.
  • Mengatur tanggung jawab hukum.
  • Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan terjamin bagi seluruh karyawan.
  • Memberikan perlindungan bagi seluruh orang dan aset ketika ada risiko berbahaya.
  • Membantu menetapkan asuransi perusahaan agar meminimalisir premi tidak penting.

Pendekatan Manajemen Risiko

Total ada empat pendekatan manajemen risiko yang terhitung pula sebagai strategi. Apa saja pendekatannya?

1. Menghindari Risiko

Menjalankan bisnis pasti selalu diintai oleh berbagai risiko. Walaupun menghapus risiko secara 100% sangat tidak mungkin, strategi menghindari risiko dirancang untuk mencegah ancaman hingga semaksimal mungkin. Jadi, perusahaan bisa menghindari dampak dari risiko yang cukup mahal dan mengganggu.

2. Mengurangi Risiko

Mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan risiko menjadi hal penting juga. Khususnya dalam proses operasional perusahaan. Untuk mengurangi risiko, perusahaan perlu menyesuaikan aspek-aspek tertentu dari seluruh rencana, hingga mengurangi ruang lingkupnya. Hal ini membuat risiko yang datang menjadi lebih berkurang. 

3. Membagi Risiko

Mengapa risiko harus dibagi? Ketika ada konsekuensi risiko, maka sebaiknya dibagi atau didistribusikan saja ke beberapa departemen dan divisi. Pembagian risiko ini juga dapat dilakukan kepada pihak ketiga, seperti mitra bisnis atau vendor. Hal ini membuat perusahaan Anda bisa mengatasi risiko dengan lebih baik.

4. Mempertahankan Risiko

Pendekatan lainnya dari manajemen risiko adalah mempertahankan risiko. Benar sekali, perusahaan terkadang harus mengambil risiko dari sudut pandang bisnis lalu menjaganya. Hal ini dilakukan untuk menghadapi dampak yang lebih buruk. Tentunya diperlukan perhitungan yang lebih matang ketika mempertahankan risiko. Contohnya seperti laba proyek tetap besar walaupun risiko dipertahankan, daripada langsung menghilangkan ancaman itu.

Manajemen risiko sangatlah penting terutama untuk perusahaan pembiayaan yang mempunyai pertanggungjawaban atas dana yang telah dikeluarkan investor. Maka dari itu manajemen risiko perlu didukung dengan penggunaan software yang tepat. Anda bisa mengembangkan bisnis di industri multi-finance dengan CONFINS – Multifinance core systems dari AdIns.

Confins sangat berguna untuk perusahaan yang berkecimpung di industri multi-finance untuk berbagai hal, seperti loan origination, disbursement, account maintenance, collection management system, dan funding. Dapatkan informasi selengkapnya dan demo Confins dengan menghubungi AdIns.

manajemen risiko perusahaan, Manajemen Risiko Perusahaan: Pengertian, Prinsip, Proses dan Manfaat, Advance Innovations

Author :

Ad-Ins

Published date :

29 April 2022