Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Bisnis dengan Sistem yang Adaptif

Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Bisnis dengan Sistem yang Adaptif

keunggulan kompetitif unit bisnis, Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Bisnis dengan Sistem yang Adaptif, Advance Innovations

Kini kita tengah dihadapkan pada era transformasi digital. Bahkan tidak berlebihan rasanya menyebut Indonesia sebagai digital first nation. Hal ini disampaikan oleh salah satu pembicara pada acara AdIns Executive Business Gathering 2019, Ivan Christian.

Berdasarkan data, Head of Product Development CONFINS AdIns ini menyebutkan bahwa Indonesia merupakan populasi terbesar di Instagram, dengan pengguna mencapai 57 juta orang. Tidak hanya di Instagram, Indonesia—khususnya Jakarta—juga menjadi kota tersibuk dunia di Twitter.

Belum lagi industri startup yang terus berkembang. Bahkan Indonesia menjadi negara dengan jumlah unicorn startup terbanyak di Asia Tenggara. Hal ini tidak terlepas dari peran e-commerce yang cukup mendominasi online market di tanah air. Mudah, praktis, dan terotomasi menjadi alasan di balik popularitas e-commerce. Para pelaku e-commerce bisa memberikan hal tersebut karena adanya data collecting, yang prosesnya bisa mencapai 75%.

Dengan perkembangan bisnis di dunia digital yang begitu pesat, apa yang harus Anda lakukan agar bisnis bisa unggul melalui pemanfaatan data?

Butuh yang namanya fraud detection

Dalam mengolah data yang ada di e-commerce, dibutuhkan kelihaian dan ketelitian dalam memilah atau melakukan filter dari beragam data dan sumber yang berguna. Untuk itu, fraud detection sangat dibutuhkan dalam proses ini. Ada lima komponen fraud detection yang perlu dilakukan. Komponen pertama yaitu duplicate checking yang merupakan tugas dari bagian internal untuk mengambil dan memanfaatkan data yang ada. Tugasnya untuk mengecek apakah ada data yang dobel atau tidak. 

Komponen kedua adalah asset checking. Asset checking memiliki fungsi untuk mengatasi adanya unit atau barang yang sama dibiayai berulang kali atau biasa disebut double financing. Proses ini juga bisa dilakukan oleh external checking. External checking adalah komponen selanjutnya dalam fraud detection. Kemudian, komponen keempat adalah behavioral checking yang memiliki sumber data yang beragam, contohnya e-commerce.

Dalam e-commerce, ada beragam informasi yang bisa didapat seperti identitas dan alamat. Bahkan ­e-money juga bisa diambil identitasnya dan sudah pasti validitasnya dengan adanya credit storing. Komponen terakhir adalah third-party data checking yang memiliki hubungan dengan credit storing dalam hal analisis data dari sebuah store card biasa.

Tidak hanya fraud detection, tapi juga harus credit storing

Seperti penjelasan di atas, Ivan Cristian juga menjelaskan bahwa, “Fraud detection menjadi step awal untuk kita filtering. Berikutnya, kita perlu melakukan credit storing, bermula dari store card dari komponennya, bisa umur, bisa incom,e dan lain-lain.” Hal ini menunjukkan betapa pentingnya credit storing. Jadi, data yang sudah didapatkan akan diproses melalui fraud detection dan credit storage.

Ketahui purpose of financing sesuai aturan OJK

Dalam pengaturan sebuah bisnis multifinance, ada sebuah purpose of financing yang mengatur sebuah usaha multifinance dalam empat bagian, termasuk investasi multiguna modal kerja. OJK memberikan kebebasan kepada perusahaan multifinance agar mampu melakukan bisnis seluas-luasnya.

Jangan lupa mengatur dan monitor SLE

Ivan Cristian juga menyebutkan bahwa pengaturan dan pengawasan service level experience (SLE) juga penting. Hal ini dikarenakan SLE memiliki tujuan untuk memberikan custumer waktu delivery yang cepat.

Selain itu, perlunya dashboard guna mengawasi monitor lead dari tahap masuk hingga selesai sebenarnya untuk mengetahui adanya bottle neck. Hal ini bertujuan untuk melihat sampai mana prosesnya dan butuh aksi seperti apa. Jadi, dari aksi dan tindakan yang tepat untuk diberikan, akan menjadi solusi yang lebih efektif untuk mengatasi masalah yang terjadi.

Jadi, sistem adaptif itu seperti apa?

Ivan Cristian menyebutkan beberapa sifat dari sebuah sistem adaptif, yaitu open information. Digital transaction ada banyak dan harus memiliki kemungkinan untuk terbuka agar bisa diakuisisi, digital acquisition, hingga third-party checking. Pada dasarnya, harus berfokus pada data collecting dan enrichment. Jadi, data tersebut bisa diperkaya dan dipakai. 

Selain itu, decision engine, business rules, serta work flow juga harus ada dan pastinya bisa disesuaikan dan diatur. Untuk manajemen, pastinya sistem harus mempersiapkan dashboard yang dapat dipakai dan field in untuk digunakan dalam analisis. Sistem adaptif juga termasuk pada persaingan SLE. Itulah kenapa pengawasan pada setiap SLE juga harus terkontrol dengan baik.

Namanya perubahan tidak bisa dihindari, bisnis Anda yang harus beradaptasi. Caranya dengan menerapkan sistem bisnis adaptif, yang bisa diubah dan di-custom dengan cepat. Beberapa prosesnya memang mengharuskan Anda untuk melakukan otomatisasi agar lebih cepat. Namun, selama bisnis sudah menerapkan dan memenuhi seluruh kriteria di atas, maka sistem bisnis sudah adaptif dan Anda pun bisa meningkatkan keunggulan di pasar.