AdIns Seratus Persen Work From Home

AdIns Seratus Persen Work From Home

Tanggal 16 Maret 2020 adalah hari yang bersejarah bagi AdIns … Why ? Karena pada hari Senin 16 Maret 2020 jam 16:11 sore, di inbox kita masing-masing muncul email dari pak Guntur yang judulnya “Uji coba WFH (Work From Home)”, yang kemudian disusul dengan email selanjutnya pada hari Jumat 20 Maret 2020 jam 13:58 yang berjudul “Uji Coba WFH 100%”. Sebagian dari AdInser mungkin sudah menunggu-nunggu berita ini, karena saat ini di lingkungan sekitar kita sudah banyak organisasi ( kantor, sekolah, bahkan kantor pemerintahan ) yang sudah melakukan hal ini terkait dengan pandemi COVID-19. Lagipula, konsep WFH ini sebenarnya adalah suatu konsep yang terdengar indah, menyenangkan, dan sering digadang-gadang sebagai perks di sejumlah perusahaan untuk menarik minat top talent untuk bergabung di tempat mereka.

Menariknya, sebetulnya konsep WFH juga bukan merupakan barang baru di AdIns. Dalam catatan saya, Pak Guntur pertama kali melontarkan ide ini di pertengahan tahun 2012, dan inisiatif ini pertama kali didiskusikan pada bulan Agustus tahun 2012., artinya sudah 8 tahun yang lalu. Sayangnya pada waktu itu konsep ini sulit sekali untuk diimplementasikan, karena berbagai pertimbangan teknis dan non teknis, bandwidth, security, versioning, dan sebagainya. Dan akhirnya inisiatif ini hanya jalan di tempat selama bertahun-tahun, dengan sedikit sekali kemajuan selama 8 tahun terakhir ini.

Jadi kalau dipikir-pikir, pada akhirnya yang membuat kita benar-benar bisa WFH di tahun 2020 ini bukannya karena kita sudah menemukan solusi teknis atas masalah yang dulu kita kuatirkan, bukan juga jaminan bahwa kita bisa disiplin bekerja, tapi semuanya ini di-trigger oleh keadaan eksternal yang tidak bisa kita kendalikan. Jadi, kondisi kepepet kadang bisa punya dampak yang baik, karena kondisi kepepet membuat kita harus mengambil keputusan yang dulu tidak berani kita buat.

Nah, setelah WFH ini berjalan selama tiga minggu, salah seorang AdInser bertanya kepada saya : apakah kendala yang paling berdampak selama pelaksanaan WFH ini ? Saya sempat mengidentifikasi beberapa kendala teknis dan non teknis untuk menjawab pertanyaan ini, namun pada akhirnya saya menemukan kendala terbesar yang saya hadapi selama WFH ini. Kendala itu bukanlah kendala koneksi Internet yang kadang masih tidak stabil … bukan juga masalah ketidaknyamanan bekerja di rumah yang tidak dirancang sebagai tempat bekerja … bukan juga masalah merubah kebiasaan penggunaan dokumen hard copy menjadi soft copy … bukan semua itu … 

Menurut saya, salah satu kendala utama yang saya alami adalah berkurangnya, atau malah hilangnya human interaction dengan orang-orang di sekitar kita. Tentu yang saya maksud dengan human interaction disini adalah pertemuan fisik dengan teman-teman kia di kantor, sesuatu hal selama ini mungkin kita take for granted. Setiap pagi kita tiba di kantor, kita akan bertemu atau berpapasan dengan Security di pintu masuk, dengan Receptionist, dengan bapak-bapak Cleaning Service, Kurir, Driver, dan sebagainya … lalu kita bertemu dengan sesama rekan kerja kita, baik yang kita kenal maupun tidak … lalu kadang kita juga tidak sengaja berpapasan dengan pimpinan di kantor kita, Bapak / Ibu Board of Management, dan selama ini semuanya ini kita anggap hal ini sebagai sesuatu yang normal, yang kita jalani sehari-hari tanpa kita sadari. 

WFH Telah merubah semua ini. Memang betul bahwa tiap hari saya, dan tentunya kita semua, melakukan meeting koordinasi harian di team masing-masing, dan juga meetingmeeting lain dengan menggunakan voice atau video conference. Harus disadari bahwa video conference juga bukan merupakan solusi terbaik, mengingat kualitas koneksi Internet kita yang masih belum merata, yang seringkali membuat resolusi tampilan video turun atau bahkan tersendat-sendat. Selain itu, banyak orang yang hanya menampilkan bagian atas wajah saat melakukan video conference, entah apa alasannya, sehingga kita tidak bisa melihat gesture lawan bicara kita secara lengkap.

Di luar itu, kehilangan terbesar yang saya rasakan adalah kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang lain di luar team kita itu. Tidak ada yang bertegur sapa dengan kita saat kita tiba di kantor, saat kita mengisi air minum di pantry, saat kita memberi makan ikan koi, saat kita makan siang … tidak ada yang menawarkan untuk membeli snack atau kopi bersama-sama, tidak ada yang mengajak ke minimarket untuk membeli jajanan, tidak ada lagi yang mengajak makan siang bersama. Tidak ada obrolan spontan dengan rekan-rekan sekantor atau bahkan orang-orang yang kita jumpai sehari-hari, termasuk penjual jajanan dan pemilik atau pelayan rumah makan yang kita singgahi. Saya sendiri menyadari bahwa sejak minggu kedua WFH, video conference rutin dengan team yang dilakukan pada hari Jumat sore selalu berlangsung lebih lama dari sebelumnya, karena momen ini sering kami pergunakan untuk ngobrol ngalor ngidul, membicarakan berbagai topik ringan yang sudah lama tidak kami lakukan.  Saya kira, setidaknya hal ini mengurangi sedikit rasa keterasingan kami.

Keterasingan ? Mengapa saya memakai istilah ini ? Aristoteles, seorang filsuf Yunani terkenal yang hidup di abad ketiga sebelum masehi ( tepatnya 384 SM sampai 322 SM ) pernah mengungkapkan sebuah konsep yang disebutnya sebagai zoon politicon. Kalau diterjemahkan secara harfiah, sebenarnya zoon berarti hewan ( ingat kata zoologi yang berarti ilmu mengenai hewan, atau kata  zoo dalam bahasa Inggris yang berarti kebun binatang ), dan politicon artinya berinteraksi sebagai masyarakat ( atau bermasyarakat ). Istilah zoon politicon sendiri digunakan Aristoteles bahwa manusia adalah makhluk sosial, atau makhluk yang secara natural terdorong untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain, dan kebutuhan untuk bersosialisasi inilah yang membedakan manusia dengan hewan pada umumnya. Jadi, manusia memang tidak ditakdirkan untuk hidup sendiri atau terpisah dari lingkungannya, karena manusia selalu membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidupnya.

Di jaman yang lebih modern, seorang filsuf lainnya yang bernama Adam Smith ( 1723 – 1790 ) juga pernah mengungkapkan teori yang sejalan dengan teori Aristoteles, yang disebutnya sebagai homo homini socius. Istilah ini memiliki arti bahwa seorang manusia ditakdirkan untuk menjadi sahabat bagi manusia lainnya. Menarik sekali bahwa kedua orang yang hidup terpaut sekitar 2.000 tahun mengungkapkan hal yang sama, karena setelah dipikirkan lebih jauh, terdapat kebenaran hakiki dari teori yang mereka kemukakan tersebut. Bahkan secara umum, kedua konsep ini juga sudah diajarkan kepada setiap dari kita saat kita masih belajar di tingkat Sekolah Dasar ( SD ), dimana Guru IPS kita mengajarkan kepada kita bahwa manusia adalah makhluk sosial. Sejujurnya, saya juga tidak pernah memikirkan hal ini lebih jauh, sampai saat dimana kita memasuki minggu ketiga  WFH yang mulai diikuti dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ), dimana perasaan keterasingan ini mulai timbul.

Sejujurnya saya masih bersyukur bahwa di rumah saya masih ada istri dan anak-anak remaja saya, dimana kami masih bisa bertemu secara fisik, dan bisa  ngobrol serta bercanda setiap hari, minimal pada jam-jam makan setiap hari. Saya mencoba membayangkan bahwa masih ada teman-teman saya yang lebih tidak beruntung dari saya karena tinggal sendiri, misalnya teman-teman yang kost, apalagi di rumah kost yang tidak banyak penghuninya.

Sekarang saya mulai mengerti, mengapa banyak kita lihat di film-film bagaimana tahanan yang tidak disiplin dipindahkan ke sel isolasi, karena keterasingan yang dialami selama berada di sel isolasi itu bisa jadi merupakan hukuman terberat yang bisa dialami oleh seorang tahanan. Saya juga mulai mengerti ( di film-film juga ) mengapa orang yang diceritakan terdampar sendirian di pulau terpencil, atau tahanan di abad pertengahan yang dikurung seorang diri di penjara bawah tanah selalu digambarkan menulis atau menorehkan jumlah hari yang telah dilewatinya di tembok batu ( atau di batang pohon, bagi yang terdampar di pulau ), karena inilah cara mereka menangani kesepian yang mereka alami.

Sadarkah kita, bahwa latihan perayaan ulang tahun AdIns  yang dilakukan melalui aplikasi zoom pada hari Jumat, 17 April 2020 jam 15:00 tanpa kita sadari telah memberi pengaruh positif bagi kita semua ? Mungkin yang terlihat di layar hanyalah wajah-wajah, yang sebagian bentuknya tidak normal karena kita mencoba menggunakan virtual background yang ternyata tidak bersahabat dengan notebook yang spesifikasinya kurang mumpuni, namun candaan dan celetukan spontan yang dilemparkan satu sama lain tanpa kita sadari telah membangun semangat kita di Jumat sore yang panas terik itu, dan bagi banyak orang ( termasuk saya ), pertemuan 30 menit ( sejam lebih jika menghitung waktu yang digunakan untuk tes ) telah mengobati kerinduan pada AdInsers lainnya.

Pada akhirnya, keterasingan ini memang sesuatu hal yang tidak menyenangkan, dan harus coba diatasi sedemikian rupa supaya hal ini tidak sampai mengganggu kesehatan emosional kita. Saran saya selama PSBB masih dilakukan, cobalah untuk tetap berinteraksi dengan teman-teman dan keluarga kita sebanyak yang kita mampu lakukan, meskipun hanya lewat video conference. Alangkah baiknya juga jika kita secara informal mengadakan pertemuan-pertemuan online, untuk tetap menjaga silaturahmi dengan teman-teman kita. Bersyukurlah pada Tuhan jika masih ada orang-orang di sekitar kita, sekalipun pada masa karantina ini. Dan jika nanti jika masa karantina ini sudah berakhir, bersyukurlah untuk teman-teman yang setiap hari kita temui, sekalipun mereka tampak menyebalkan, karena kehadiran mereka ikut membantu membentuk kita menjadi manusia seutuhnya – manusia yang hidup untuk memberi pengaruh positif ( = menjadi berkat ) bagi lingkungan sekitarnya

ith the people around us. Of course, what I mean by human interaction is a physical meeting with our friends in the office, something we might take for granted. Every morning we arrive at the office, we will meet or meet Security at the entrance, the Receptionist, the Cleaning Service, Couriers, Drivers, and others. Then, we meet our colleagues, whether we know them personally or not. Sometimes, we accidentally meet with the leaders in our office, Mr / Mrs. Board of Management. All this time, we regard this as something usual, which we live every day without us knowing it.

 
WFH has changed all this. It is true that every day I, and of course all of us, conduct daily coordination meetings in each team, and also other meetings using voice or video conference. We have to realize, video conferencing is not the best solution, because of the quality of our Internet connection, which is still uneven, and often makes the video display resolution down or even faltered. Besides, many people only show the top of their faces when doing video conferences, for whatever reason, so we can not see the gesture of the other person we are talking to in full.

Beyond that, the biggest loss I feel is the opportunity to interact with other people outside our team. No one talks to us when we arrive at the office, and when we fill drinking water in the pantry, or when we feed koi fish when we have lunch, no one offers to buy snacks or coffee together, no one invites to the convenience store to buy snacks, no more taking lunch together. There is no spontaneous conversation with colleagues in the office or people we meet every day, including hawker sellers and owners or waiters of restaurants we visit. I realize that since the second week of WFH, regular video conferences with teams conducted on Friday afternoons always last longer than before because we often use this moment to chat out loud, discuss various light topics that we haven’t done in a long time. I think this at least reduces our sense of alienation.

Alienation? Why do I use this term? Aristotle, a famous Greek philosopher who lived in the third century BC (precisely 384 BC to 322 BC), once revealed a concept he called zoon politicon. Zoon means animals (remember the word zoology, which means knowledge of animals, or the word zoo in English). Politicon means to interact as a community (or a society). The term zoon politicon itself used by Aristotle that humans are social creatures that naturally motivated to live in society and interact with one another. This necessity to socialize distinguishes humans from animals in general. So, humans are not destined to live alone, or separate from their surroundings, because humans always need the presence of others in their lives.

In more modern times, another philosopher named Adam Smith (1723 – 1790) also revealed a theory that was in line with Aristotle’s theory, called homo homini socius. This term means a human destined to become friends with other humans. Interestingly, the two people who lived adrift around 2,000 years revealed the same thing. Because after further thought, there was an essential truth to the theory they put forward. In general, these two concepts have also been taught to each of us while we are still studying at the elementary school level, where our social studies teacher teaches us humans are social beings. To be honest, I also never thought about this further, to the point where we are entering the third week of WFH, which has begun to be followed by the Large-Scale Social Restrictions (PSBB) policy, and this feeling of alienation is beginning to emerge.

Honestly, I am grateful there are my wife and teenage children at home. I can meet them physically and can chat and joke every day. At least, when we have mealtimes every day. I try imagining some of my friends are more unlucky than me because they live alone. For example, friends who are boarding, especially in boarding houses that do not have many tenants.

Now I begin to understand, why do we see so much in films how undisciplined prisoners are transferred to solitary confinement because the isolation experienced while in solitary confinement can be the most severe punishment for a prisoner. Also, now I discover (in films as well) why people who were stranded alone on a desert island. Or medieval prisoners who have locked up alone in dungeons always portrayed writing or incised the number of days they had spent on a stone wall (or in tree trunks, for those stranded on the island) because this is how they handle the loneliness they experience.

Are we aware of the practice of celebrating AdIns’ anniversary, which was carried out through the zoom application on Friday, April 17, 2020, at 15:00 without us realizing it had a positive effect on us all? Maybe all you see on the screen are faces, some of which are abnormal because we try using a virtual background. And it turns out to be unfriendly to the notebooks whose specifications are less qualified. But, spontaneous jokes and chants that thrown at each other without us knowing, we have built our enthusiasm in that sweltering Friday afternoon. And for many people (including me), a 30-minute meeting (more than an hour when calculating the time spent on tests) had healed the longing for other AdInsers.

In the end, this alienation is indeed unpleasant, and we must try overcoming it, so it cannot influence our emotional health. My advice, as long as PSBB is still going on, try to keep interacting with our friends and family as much as we can, even if only through video conferencing. And that would be nice if we also informally hold online meetings to keep in touch with our friends. Thank God, there are still people around us, even during this quarantine. And if later the quarantine period is over, be grateful for the friends we meet every day. Even if they seem annoying, their presence helps to shape us into fully human beings – people who live to have a positive influence (to be a blessing) for the surrounding environment.

Written by Daniel A.W

 

Anda Mungkin Tertarik Untuk Membaca:

  1. Faceshield Untuk Melawan COVID-19
  2. Bantuan Sosial Dari AdIns Karena Pandemi Virus Corona
  3. Menjadi Berkat Ditengah Pandemi Corona Virus
  4. ADINS – OCBC Rapat Perdana (Kick Off Meeting) Secara Online Dalam Rangka Implementasi PROFIND
  5. Inovasi Melampaui Dua Dekade – Ulang Tahun AdIns ke 20
  6. Bakti Sosial dari AdIns untuk Para Tenaga Medis
  7. Work From Home COVID 19: Berkat Untuk AdIns Dibalik The Power of Kepepet
  8. AdIns Seratus Persen Work From Home