Perbedaan Credit Scoring pada Bank dan Fintech, Mana yang Lebih Ketat?
Saat mengajukan pinjaman atau pembiayaan, perbedaan credit scoring pada bank dan fintech sering kali menjadi salah satu hal yang menentukan apakah pengajuan Anda disetujui atau tidak. Meski sama sama bertujuan menilai tingkat risiko calon peminjam, bank dan perusahaan fintech memiliki cara, sumber data, serta proses penilaian yang tidak sepenuhnya sama.
Memahami perbedaan tersebut penting, terutama jika Anda ingin meningkatkan peluang memperoleh pendanaan atau sekadar mengetahui bagaimana lembaga keuangan menilai kelayakan kredit. Simak penjelasan lengkapnya pada artikel berikut.
Baca juga: Cara Membuat Credit Scoring beserta Contohnya
Perbedaan Credit Scoring pada Bank dan Fintech
Pada dasarnya, credit scoring merupakan proses penilaian untuk mengukur kemampuan dan kemauan seseorang atau perusahaan dalam memenuhi kewajiban pembayaran. Namun, setiap lembaga keuangan memiliki pendekatan yang berbeda. Ini perbedaannya:
1. Sumber Data yang Digunakan
Bank umumnya mengandalkan data keuangan yang lebih formal. Penilaian dilakukan berdasarkan riwayat kredit, laporan penghasilan, mutasi rekening, aset yang dimiliki, hingga informasi dari Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
Sementara itu, fintech cenderung memanfaatkan sumber data yang lebih beragam. Selain riwayat kredit, fintech dapat menggunakan data transaksi digital, aktivitas pembayaran tagihan, perilaku penggunaan aplikasi, hingga data alternatif lainnya yang masih sesuai dengan ketentuan perlindungan data.
2. Proses Penilaian
Bank menerapkan proses analisis yang lebih panjang karena melibatkan verifikasi dokumen dan evaluasi secara menyeluruh. Beberapa jenis pinjaman bahkan masih memerlukan peninjauan langsung oleh analis kredit.
Di sisi lain, fintech mengandalkan sistem otomatis berbasis teknologi. Data yang masuk diproses menggunakan algoritma sehingga hasil penilaian dapat diperoleh dalam waktu yang jauh lebih singkat. Meski demikian, proses yang cepat bukan berarti standar penilaiannya lebih rendah. Setiap pengajuan tetap harus memenuhi parameter risiko yang telah ditentukan.
3. Kecepatan Pengambilan Keputusan
Salah satu perbedaan paling terasa adalah waktu persetujuan. Pada bank, proses persetujuan dapat berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung jenis pembiayaan dan kelengkapan dokumen.
Fintech menawarkan proses yang lebih cepat karena sebagian besar tahapan dilakukan secara digital. Dalam beberapa kasus, keputusan dapat diberikan hanya dalam hitungan menit atau jam setelah seluruh data berhasil diverifikasi.
4. Fleksibilitas dalam Menilai Calon Peminjam
Bank memiliki kriteria yang relatif lebih konservatif. Penghasilan tetap, masa kerja, serta riwayat kredit menjadi faktor utama yang sangat diperhatikan.
Sebaliknya, fintech cenderung lebih fleksibel. Pelaku usaha kecil, pekerja lepas, maupun individu yang belum memiliki riwayat kredit panjang masih memiliki peluang untuk memperoleh pembiayaan apabila data alternatif menunjukkan kemampuan membayar yang baik.
5. Pemanfaatan Teknologi
Perbedaan credit scoring pada bank dan fintech juga terlihat dari penggunaan teknologi. Bank mulai mengadopsi kecerdasan buatan dan analisis data, tetapi sebagian proses masih dikombinasikan dengan penilaian manual.
Fintech sejak awal dibangun dengan teknologi digital. Oleh karena itu, analisis data dilakukan secara otomatis menggunakan machine learning dan pemodelan risiko sehingga sistem dapat terus berkembang berdasarkan data terbaru.
6. Pembaruan Skor Kredit
Pada bank, pembaruan informasi kredit umumnya mengikuti siklus pelaporan yang berlaku sehingga perubahan skor tidak selalu terjadi secara instan.
Sebaliknya, fintech mampu memperbarui penilaian lebih cepat karena sistem dapat membaca perubahan perilaku pembayaran maupun aktivitas transaksi secara berkala. Hal ini memungkinkan skor kredit berubah lebih dinamis sesuai kondisi terbaru pengguna.
Pentingnya Credit Scoring pada Industri Keuangan
Credit scoring bukan sekadar angka yang menentukan diterima atau ditolaknya pengajuan kredit. Sistem ini memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan lembaga keuangan dan nasabah. Berikut penjelasan selengkapnya:
1. Membantu Menilai Risiko Kredit
Credit scoring memberikan gambaran mengenai kemungkinan seorang peminjam mampu memenuhi kewajiban pembayaran tepat waktu. Dengan adanya penilaian tersebut, lembaga keuangan dapat mengurangi potensi kredit bermasalah sekaligus membuat keputusan yang lebih objektif.
2. Mempercepat Proses Persetujuan
Sistem credit scoring membuat proses evaluasi menjadi lebih efisien karena sebagian besar data dapat dianalisis secara sistematis. Hal ini membantu mempercepat proses pengambilan keputusan tanpa mengurangi kualitas penilaian terhadap calon peminjam.
3. Mendorong Keputusan yang Lebih Konsisten
Penggunaan credit scoring membantu mengurangi penilaian yang bersifat subjektif. Setiap calon peminjam dievaluasi menggunakan parameter yang sama sehingga hasil penilaian menjadi lebih konsisten dan adil.
Baca juga: Cara Kerja AI Credit Scoring dan Manfaatnya untuk Bisnis
4. Membantu Menentukan Produk yang Sesuai
Hasil credit scoring tidak hanya digunakan untuk menyetujui atau menolak pengajuan. Lembaga keuangan juga dapat menentukan besaran plafon, jangka waktu, maupun tingkat risiko yang sesuai dengan profil masing masing peminjam.
5. Mendukung Pertumbuhan Industri Keuangan
Penilaian risiko yang lebih akurat membuat penyaluran kredit menjadi lebih sehat. Kondisi tersebut membantu menjaga stabilitas industri keuangan sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat maupun pelaku usaha yang memiliki kemampuan membayar dengan baik.
5C dalam Skor Kredit
Selain credit scoring berbasis data, banyak lembaga keuangan juga menggunakan prinsip 5C sebagai dasar analisis kelayakan kredit. Kelima aspek ini saling melengkapi untuk menghasilkan penilaian yang lebih komprehensif:
1. Character
Character menggambarkan reputasi dan komitmen seseorang dalam memenuhi kewajiban finansial. Penilaian dilakukan melalui riwayat pembayaran, kedisiplinan dalam menyelesaikan pinjaman sebelumnya, serta rekam jejak keuangan secara keseluruhan. Semakin baik reputasi yang dimiliki, semakin tinggi tingkat kepercayaan lembaga keuangan.
2. Capacity
Capacity mengacu pada kemampuan peminjam dalam membayar cicilan sesuai jadwal. Aspek ini biasanya dinilai dari pendapatan, arus kas, stabilitas pekerjaan atau usaha, serta besarnya beban keuangan yang sedang dimiliki. Tujuannya untuk memastikan pembayaran kredit tetap dapat dilakukan tanpa mengganggu kondisi keuangan.
3. Capital
Capital menunjukkan kekuatan finansial yang dimiliki calon peminjam. Lembaga keuangan akan melihat jumlah aset, tabungan, investasi, maupun modal usaha sebagai indikator kemampuan menghadapi risiko keuangan di masa mendatang.
4. Collateral
Collateral merupakan aset yang dapat dijadikan jaminan apabila terjadi gagal bayar. Keberadaan jaminan membantu mengurangi risiko bagi pemberi pinjaman, terutama untuk pembiayaan dengan nilai yang cukup besar. Meski begitu, tidak semua produk kredit mensyaratkan adanya agunan.
5. Condition
Condition berkaitan dengan kondisi ekonomi maupun faktor eksternal yang dapat memengaruhi kemampuan pembayaran. Lembaga keuangan akan mempertimbangkan situasi industri, kondisi pasar, tren ekonomi, hingga prospek usaha calon peminjam sebelum mengambil keputusan pemberian kredit.
Baca juga: Apa Itu Plafon Kredit: Panduan Memahami Batas Kredit Anda
AdIns Hadirkan Aplikasi Credit Scoring untuk Cek Kelayakan Customer Lebih Mudah!
Perbedaan credit scoring pada bank dan fintech menunjukkan bahwa proses penilaian kredit kini tidak lagi bergantung pada satu pendekatan saja. Semakin berkembangnya teknologi membuat proses analisis risiko menjadi lebih cepat, akurat, dan mampu memanfaatkan berbagai sumber data untuk menghasilkan keputusan yang lebih tepat.
Bagi perusahaan multifinance, hal ini menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas penyaluran pembiayaan sekaligus menjaga portofolio kredit tetap sehat. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, penggunaan sistem yang terintegrasi menjadi langkah penting.

Melalui aplikasi LOS dari AdIns, perusahaan dapat mengotomatiskan proses credit scoring hanya dalam hitungan detik menggunakan teknologi AI dan machine learning. Solusi ini mampu menganalisis tingkat risiko secara lebih akurat, mendeteksi potensi fraud sejak awal, serta menghasilkan skor kredit secara otomatis berdasarkan berbagai parameter yang relevan.
Seluruh proses verifikasi dan penilaian kredit dari layanan AdIns dapat dilakukan dalam satu alur kerja, sehingga mempercepat proses persetujuan, mengurangi pekerjaan administratif, dan meminimalkan risiko kredit bermasalah. Jadi, perusahaan dapat mengambil keputusan pembiayaan dengan lebih percaya diri.
Hubungi AdIns sekarang untuk mempercepat proses loan origination, meningkatkan akurasi credit scoring, dan membantu membangun portofolio pembiayaan yang lebih sehat bagi bisnis.










